Amal Jama’i

Posted on April 8, 2010 by

1


Pengantar

Kerjasama atau gotong-royong sudah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia, namun seiring berkembangnya peradaban di era globalisasi seperti sekarang ini, kerjasama cenderung bermakna konotasi untuk mendapatkan suatu keuntungan material sedangkan gotong-royong terbatas digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Terminologi ini dalam Islam disebut Amal Jama’i, di mana maknanya lebih dekat dengan team work dibanding gotong-royong. Secara khusus amal jama’i digunakan untuk menamai kegiatan yang bertujuan baik dan bukan untuk sebaliknya. Berikut ini adalah tulisan yang dirangkum dari berbagai sumber tentang amal jama’i. Selamat menikmati, semoga menjadi tambahan wawasan bagi kita semua.

Pengertian
Amal Jama’i (gerakan bersama) secara bahasa berarti “sekelompok manusia yang berhimpun bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama”. Al-`amalul al-jamaa’i berarti bekerja sama berdasarkan kesepakatan dan bekerja bersama-sama sesuai tugas yang diberikan untuk memantapkan amal. Jadi, Al-`amalul al-jamaa’i mendistribusikan amal (pekerjaan) kepada setiap anggota berdasarkan potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan.[1] Amal jama’i adalah amal yang dilakukan secara berjama’ah atau yang diatur dalam sebuah kelembagaan (Tanzhim). [2]

Syaikh Musthofa Masyhur memberikan ta’rif amal jama’i sebagai berikut : “gerakan bersama untuk mencapai tujuan organisasi berdasarkan keputusan yang telah ditetapkan”. Beberapa tafsir dari ta’rif di atas adalah: [3]
1.amal jamai merupakan gerakan bersama, di mana setiap anggota menjalankan fungsi strukturalnya dengan orientasi pencapaian tujuan.
2.bahwa amal yang dilakukan oleh seluruh anggota adalah dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
3.bahwa amal yang dilakukan harus berdasar keputusan yang telah ditetapkan sesuai mekanisme yang berlaku.

Amal jama’i bukanlah bekerja sendiri-sendiri dalam suatu kelompok. Amal jama’i adalah suatu pekerjaan oleh orang-orang yang terstruktur, satu komando, satu perintah, dan ada spesialisasi da’wah. [4]

Dalil
“dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada kemakrufan, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali-Imron : 104)

Kebaikan dalam ayat di atas menurut tafsir Ibnu Katsir adalah mengikuti Al Qur-an dan Sunnah Rasulullah. Maksud ayat di atas lebih lanjut adalah hendaknya ada dari umat ini segolongan orang yang berjuang di bidang tersebut. Sebagaimana disampaikan dalam hadist Rasulullah, “barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan, jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian merupakan selemah-lemah iman.” Ini menandakan hal tersebut adalah kewajiban setiap individu. [5]

“dan berpeganglah kamu semuanya kepada Tali (Agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. 3 : 103)

Dalam kaidah tafsir, Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat menekankan urgensi amal jama’i dengan ayat di atas, dengan memberi berkali-kali penekanan, dengan perintah-Nya, yaitu : Wa’tashimuu (Wajib berpegang teguh), Jamii’a (SEMUA! Penegasan Allah), Walaatafarraquu (Jangan bercerai berai), Wadzkuruni’matallah (Ingatlah nikmat Allah ketika kamu berpecah belah). Jadi, da’wah tidak bisa sendiri. [4]

Urgensi
1.Perjuangan Islam terlalu berat untuk dipikul secara individual karena perjuangan Islam bertujuan mengikis habis jahiliyah sampai ke akar-akarnya dan menegakkan Islam sebagai penggantinya. Tanpa adanya struktur (tandzim) haraki yang setarap dengan struktur yang dihadapi (jahiliyah) dalam segi kesadaran, penataan dan kekuatan, tugas perjuangan Islam tak mungkin dapat dihasung meskipun dengan berpayah-payah dan pengorbanan seluruh kemampuan.
2.Da’wah secara jama’ah adalah da’wah yang paling efektif dan sangat bermanfaat bagi Gerakan Islam. Sebaliknya da’wah secara sendirian akan kurang pengaruhnya dalam usaha menanamkan ajaran Islam pada umat manusia.
3.Beramal jama’i (bergerak secara bersama) akan memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagi orang-orang yang sudah kuat. Satu batu bata saja akan tetap lemah betapapun matangnya batu bata tersebut. Ribuan batu bata yang berserakan tidak akan membentuk kekuatan, kecuali jika telah menjadi dinding, yaitu antara batu bata yang satu dengan yang lain telah direkat dan ditata secara rapi.
4.Beramal jama’i sebagai sarana mencapai keridhaan Allah, menndapatkan balasan yang diberikan berlipat ganda, dan iman lebih terpelihara.
5.Kebathilan yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. [1]

Tujuan Umum
1.Distribusi pembagian tugas (Tau zii’ul `amal)
2.Meringankan beban da’wah (Tahfiiful a’baaid da’wah)
3.Menumbuhkan potensi (Tau thifuthaqqah) [4]

Tujuan Khusus
1.Membina pribadi Muslim dan mengembalikan kepribadian Islam setelah dihancurkan oleh peradaban asing, Timur dan Barat.
2.Membina keluarga Islam dan mengembalikan karakteristiknya yang asli agar dapat melaksanakan tugasnya, yaitu ikut berpartisipasi dalam menciptakan manusia Muslim yang sejati.
3.Membina masyarakat Islam yang akan mencerminkan dakwah dan peri laku Islam, agar manusia dapat melihat hakikat Islam yang hanif ini dalam suatu bentuk yang kongkret di permukaan bumi.
4.Mempersatukan umat Islam di seluruh penjuru dunia menjadi satu front kekuatan dalam menghadapi kekafiran, kemusyrikan dan kemunafikan, sehingga umat ini didengar perkataannya dan ditakuti gerakannya.[ 1]

Hal-hal Penting
Ta’rif Syaikh Musthofa Masyhur mensyaratkan bahwa amal jama’i hanya bisa dilakukan oleh organisasi/jama’ ah yang mempunyai : [3]
1.Tujuan (ghoyyah) /visi misi yang jelas
2.Manhaj/metodologi gerakan yang kokoh
3.Unsur kepemimpinan (qiyadah) yang berwibawa
4.Keta’atan anggota terhadap pimpinan
5.Pola pengorganisasian (tandhim) yang rapi

Qiyadah dalam sebuah jama’ah merupakan unsur vital yang akan membawa jalannya organisasi. fungsi strategis qiyadah diantaranya: fungsi koordinatif (mengatur), fungsi imperatif (memaksa), vonis keputusan (terutama dalam situasi darurat). Qiyadah dipilih untuk dita’ati.

Syuro merupakan salah satu instrumen pengambil keputusan yang paling substansial dalam sebuah organisasi. jika mekanisme pengambilan keputusan selalu berjalan dengan baik, maka organisasi tersebut akan mempunyai soliditas dan resistensi yang tinggi terhdap goncangan yang biasanya mengakhiri riwayat banyak organisasi. asas penentuan sikap dan pengambilan keputusan adalah asumsi mahlahat yang terdapat dalam perkara itu. Karena sifatnya asumsi, maka sudah pasti relatif, karenanya sangatlah mudah mengalami perubahan-perubahan . Sehingga sebuah keputusan syuro selalu mengandung resiko. Sepanjang yang dilakukan syuro adalah mendefinisikan mashlahat ammah atau mudharat asumtif, maka selalu ada resiko kesalahan. Atau setidak-tidaknya “tempo kebenarannya” sangat pendek. Fungsi syuro ini dapat terlaksana bila memenuhi syarat :
a.Tersedianya sumber-sumber informasi yang cukup untuk menjamin bahwa keputusan yang kita ambil dapat dipertanggungjawabk an secara ilmiah.
b.Tingkat kedalaman ilmu pengetahuan yang memadai harus dimiliki setiap peserta syuro.
c.Adanya tradisi ilmiah dalam perbedaan pendapat yang menjamin keragaman pendapat yang terjadi dalam syuro dapat terkelola dengan baik.

Syuro punya fungsi psikologis dan fungsi instrumental. Fungsi psikologis terlaksana dengan menjamin adanya kemerdekaan dan kebebasan yang penuh bagi peserta syuro untuk mengekspresikan pikiran-pikirannya secara wajar dan apa adanya. Tapi, tenyu saja setiap orang punya cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan dirinya. Jika ruang ekspresi tidak terwadahi dengan baik, maka akan terjadi konflik yang kontraproduktif dalam syuro.

Sumber :
1. http://yahyaayyash. wordpress. com/2008/05/28/amal- jama‘i/
2. http://www.wahdah.or.id/wahdah – Wahdah Islamiyah
3. http://harokah. blogspot. com/2005/12/amal-jamai- sebuah-pengantar .html
4. http://www.hudzaifa h.org/Article277 .phtml
5. http://bizesha. wordpress. com/2007/09/24/membangun- amal-jamai- dalam-dakwah/

Tagged:
Posted in: Tajuk Utama