Tiga Pilar Ibadah

Posted on May 4, 2010 by

0


Kita tentu memahami bahwasanya Allah SWT menciptakan manusia dan jin tidak lain kecuali untuk beribadah kepada-Nya (QS. Adz-Dazariyat:56). Karenanya menjadi penting untuk memahami maksud, tujuan dan cara/proses dari ibadah itu sendiri. Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang pilar ibadah yang terdiri dari tiga hal : hubb (cinta), khauf (takut) dan raja’ (harap). Tiga pilar ini semestinya ada dalam sifat jiwa (hati) kita yang kemudian kita implementasikan dengan lisan dan perbuatan kita. Sebagaimana pengertian iman : yang dibenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

Tiga pilar ini sebenarnya adalah akhlak kita kepada Allah SWT, Rabbul ‘izzati.

1. Hubb (Kecintaan kepada Allah SWT.)

“Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai- Nya. “ (QS. Al Maa idah: 54)

“Sedangkan orang orang yang beriman mereka sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 165)

“Sesunggubnya mereka adalah orang orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al Anbiya’: 90)

Kecintaan Allah SWT. kepada makhluknya melebihi kecintaan seorang ibu kepada anaknya karenanya kecintaan mukmin kepada Allah SWT. semestinya berada di atas segalanya, bahkan dari dirinya sendiri. Allah adalah Sangpencipta alam semesta yang menjadikan kita lahir dari rahim ibunda kita. Sekiranya tidak ada perintah dan larangan ibunda yang tidak kita indahkan, tentunya Allah lebih berhak. Seandainya ibunda kita meminta sesuatu kepada kita dan tentunya kita tidak akan menolaknya, maka Allah paling berhak atas diri kita.

Kita telah melihat dan mungkin menyaksikan betapa banyak orang rela melakukan apapun bahkan mengorbankan dirinya demi sesuatu yang dia cintai. Ambil contoh, demi bertemu (melihat) sang pujaan ratusan gadis ABG rela berdesakan hingga puluhan di antaranya pingsan ketika menonton konser grup musik ternama (lihat di sini). Di beberapa kejadian bahkan mengakibatkan korban jiwa. Bagaimana dengan kecintaan kita kepada Allah?

Kecintaan ini tidak serta-merta muncul dalam hati kita melainkan ditanam dan dipelihara sehingga tumbuh dan berbunga. Berbeda dengan contoh di atas, di mana kecintaan disandarkan pada nilai-nilai materiil, kecintaan kepada Allah adalah cinta sejati yang hanya disandarkan pada nilai-nilai rabbani. Kecintaan hakiki sajalah yang akan membawa kita kepada kebahagiaan abadi.

2. Khauf (Ketakutan kita kepada Allah SWT.)

3. Raja’ (Harap kita kepada Allah SWT.)

Posted in: Uncategorized