Al Futur

Posted on April 14, 2012 by

1


Tausiah oleh : Muharror Mahfuz

Assalamulaikum Wr. Wb.
Segala Puji hanya kepada Allah SWT, Salam dan Solawat tercurah kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan kita semua selaku penerus agama Allah SWT yang Haq.

Al futur memilik dua arti, yaitu :

Pertama : “Terhenti setelah melakukan terus menerus dan berdiam setelah bergerak”.

Kedua : “ Malas (jemu) atau menunda-nunda, atau lamban setelah semangat dan bersungguh-sungguh.”.

Dengan demikan Al-Futur ini terbagi menjadi dua, yaitu : malas dan terhenti. Malas akan selalu menimpa manusia dan kondisi menusia sudah pasiti akan mengalami kemalasan, akan tetapi hal itu tidak selalu menyertai orang yang beriman, karena seorang mukmin tidak akan rela jika dirinya berdiam tanpa pekerjaan dan sesungguhnya Rasulullah SAW dalam doanya memohon perlindungan kepada Allah dari sikap malas, maka dalam doanya beliau bersabda :

“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sifat lemah dan malas”.

Sedang yang dimaksud dengan terhenti (tidak aktif) adalah terhentinya seseorang dari bekerja. Sikap future (rasa jemu dan jenuh)-lah yang sewaktu-waktu menimpa diri seorang yang ahli ibadah, karena sesungguhnya setiap pekerjaan (menimbulkan) kejenuhan.

Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya setiap pekerjaan itu memiliki masa semangat dan keseriusan, dan setiap semangat dan keseriusan itu memiliki batas waktu, maka barangsiapa yang batas waktunya pada sunnahku maka ia telah mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang kejenuhannya kepada selain itu maka ia telah binasa.”(HR. Ahmad)

Hati manusia selalu memiliki keadaan maju dan mundur, ketika seseorang yang bersikap konsisten mengalami malas dan jemu (future) maka hal ini merupakan suatu alami dan biasa, akan tetapi bahaya besar akan terjadi, jika sikap malas dan jemu itu terus berkepanjangan, apalagi sampai taraf meninggalkan ibadah-ibadah wajib dan sunnah dan banyak meninggalkan ketaatan-ketaatan kepada Allah SAW, dan kondisi seperti ini dapat menyebabkan kelemahan dan kadang future meningkatkan sampai kepada taraf tidak aktif sama sekali. Ada beberapa factor yang dapat menyebabkan seseorang terlanda sifat future, antara lain :

1. Berlebihan (ekstrim) dalam beragama

Sikap ini merupakan suatu sikap tercela sebab agama adalah ringan dan mudah, semakin seseorang mempersulit agamanya maka akan dipersulit oleh agamanya. Agama ini kokoh dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan beragama adalah perlu karena kita adalah umat pertengahan (sederhana), yaitu umat yang penuh rahmat. Barangsiapa yang hendak mengetahui hal itu maka hendaknya ia membaca sejarah hidup manusia terbaik yaitu Nabi Muhammad SAW.

2. Berlebihan dalam melakukan hal-hal mubah.

Yaitu dalam hal makan, minum, berpakaian dan kendaraan, setiap kali manusia melampaui batas dalam melakukan suatu perbuatan mubah maka ia telah kehilangan nikmat ketaatan, karena orang yang melampaui batas dalam hal makan, minum, berpakaian dan kendaraan serta perbuatan mubah lainnya maka akan terserang wabah penyakit malas, dan ia merasa berat dalam melaksanakan ketaatan, dimana semua hal itu akan menyebabkan futur (lemah semangat). Berkata Syaqiq Al-Balkhi :” Ibadah adalah pekerjaan, kedainya adalah khalwah (menyendiri) dan alatnya adalah rasa lapar.”

3. Enggan hidup berjama’ah dan lebih suka hidup menyendiri

Sesungguhnya serigala akan memangsa domba yang menyendiri, setiap kali manusia hidup menyendiri dan meninggalkan saudara-saudaranya, maka ia akan mengalami futur karena sesungguhnya manusia lemah semangat bila hidup menyendiri dan penuh gairah bila hidup bersama saudara-saudaranya. Sesungguhnya perjalanan hidup ini berat, membutuhkan pembaharuan, semangat baru dan mengasah kemauan; dan hal ini tidak mungkin didapati manusia kecuali dengan hidup bersahabat serta berjamaah yang tulus. Jika seseorang yang bersikap konsisten terus menjauhi saudara-saudaranya maka dirinya tidak akan selamat dari keputus asaan, kepenatan dan kebosanan.

4. Minimnya ketaatan

Seperti jarang melaksanakan shalat wajib dengan berjamaah bersama kaum muslimin, malas melaksanakan shalat, tidak memperhatikan rukun dan syarat shalat, menyia-nyiakan waktu dan menjauhi membaca Al-Qur’an. Sedangkan cara mengatasi semua hal itu adalah dengan melaksanakan kedua hal dibawah ini, yaitu : pertama : tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam beragama, dan kedua: meninggalkan perbuatan maksiat dan kemungkaran.

Jazakumulloh hukhoiron Katsiron. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Sumber: http://savitrist.wordpress.com/

Posted in: Kultum