3 Bulan Lagi Ramadhan Tiba

Posted on April 22, 2012 by

0


Hari ini (Ahad-malam Senin) masuk tanggal 1 Jumadil Akhir atau berarti 3 bulan (Hijriyah) lagi Ramadhan kembali hadir menyapa kita. Bagaimana iman kita hari ini?

Satu tahun ada 12 bulan, mengapa Ramadhan begitu penting? Lalu apa hubungannya dengan keimanan kita?

Ramadhan buat kaum muslimin menjadi bulan yang istimewa karena berbagai alasan. Selain karena ia menjadi bulan saat Allah swt. mewajibkan ummatnya berpuasa dengan berbagai keutamaannya, Ramadhan menjadi momen yang tidak terpisahkan dengan budaya manusia. Di Indonesia, Ramadhan menjadi masa penantian untuk hari lebaran yang identik dengan silaturrahim dan tentu saja mudik. Bagi pekerja/pelajar, bulan puasa mengurangi jam wajib dan menambah aktifitas ibadah di kantor/sekolah.

Buat kita yang sudah mengenal tarbiyah Islamiyah, Ramadhan begitu spesial karena menjadi saat utama baik untuk diri sendiri, keluarga, dan ummat. Buat antum yang masih lajang, malam-malam Ramadhan akan lebih banyak dihabiskan di masjid/musholla. Semakin ramai ketika malam ganjil terlebih di sepuluh malam terakhir karena yang sudah berkeluarga akan hadir bersama anak-anak dan istri mereka. Reuni yang indah di malam-malam penuh berkah.

Siang harinya, ketika tiap-tiap perut merasakan lapar dan kerongkongan merasakan dahaga maka masjid-masjid dipenuhi orang-orang yang sholat berjama’ah, tilawah Al Qur-an sesudahnya, juga sekedar beristirahat atau bahkan tidur pulas. Maklum, bahkan diamnya (tidur) orang puasa dinilai sebagai ibadah di bulan Ramadhan. Hampir sebulan dari 12 bulan, masjid/musholla diramaikan dengan jama’ah dan berbagai aktifitas ibadah. Subhanallah, fenomena yang tidak terjadi di bulan-bulan lain meski secara maknawi mesti menjadi catatan.

Kader tarbiyah biasa membuat panduan amal hariannya baik aktifitas ibadah (pribadi), muamalah (keluarga) maupun dakwah (ummat). Mulai dari memantapkan sholat berjama’ah 5 waktu di masjid/musholla, tilawah Al Qur-an satu juz/hari, qiyamullail tiap malam, infak/shodaqoh tiap hari, memberi ifthor pada sesama muslim, hingga menegakkan syiar melalui ta’lim tarawih dan i’tikaf berjama’ah. Benar-benar memanfatkan waktu di bulan suci itu untuk mendekatkan diri pada Allah, selain juga kepada keluarga dan ummat. Inilah hubungan Ramadhan dengan keimanan.

Nah, bila Rasulullah saw. dan para sahabat beliau mempersiapkan diri jauh-jauh hari (3-6 bulan) untuk menyambut Ramadhan lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita baru bersiap ketika malam nanti tarawih atau mengikuti sunah nabi kita?

Semoga pilihan kita adalah yang terakhir. Lalu, apa yang mesti kita persiapkan dari sekarang? Berikut ini adalah kiat-kiat bersiap menyambut Ramadhan.

1. Memohon pada Allah swt. agar diberikan umur dan kesehatan sehingga bertemu Ramadhan.
Tidak ada yang tau rahasia Allah atas usia kita, karenanya sudah sepantasnya kita memohon kepada Sangpenggenggan Jiwa agar diberikan kesempatan umur dan kesehatan sehingga kita bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadhan yang mulia. Doa yang masyhur dibaca saat menjelang Ramadhan adalah: Allahumma bariklana fi Rajaba wa Sya’ban wa balighna Ramadhan. Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan sampaikan umur kami hingga bulan Ramadhan.

2. Memperkuat niat untuk memaksimalkan Ramadhan dengan persiapan matang.
Seringkali ketika memulai suatu pekerjaan/aktifitas kita begitu semangat, niat menggebu untuk mengerjakan dan menuntaskannya dengan baik. Namun semangat itu ternyata tidak cukup bila tidak disertai persiapan yang matang, karena di perjalanan waktu hambatan dan gangguan akan menghadang. Keduanya menjadi syarat terlaksananya kegiatan secara efektif dan efisien. Semangat tanpa persiapan kosong, persiapan tanpa semangat hampa. Persiapan mulai dari fisik dengan puasa dan sholat sunnah, pemahaman dengan mempelajari kembali fiqih Ramadhan, materi dengan berinfak dan menabung sehingga semakin semangat menjadikan Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun kemarin.

3. Mengevaluasi aktifitas Ramadhan tahun lalu guna menyusun rencana aktifitas Ramadhan tahun ini.
Evaluasi adalah sunah Rasulullah dan para sahabat. Para sahabat rasul menghisab diri setiap hari, untuk menghitung apa-apa yang amal baik/buruk yang sudah dikerjakan hari itu. Umar ra. mengatakan: Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk akhirat (yaumul hisab). Hisab pribadi di dunia jauh lebih ringan daripada hisab di hari kiamat, namun demikian aktifitas ini penting untuk dilakukan sebagai tolok ukur dalam perencanaan aktifitas di masa datang.

4. Melakukan persiapan secara berjama’ah dengan orang-orang terdekat.
Dalam Islam puasa termasuk ibadah yang bersifat pribadi padahal bila dicermati ibadah yang lain lebih utama dikerjakan secara berjama’ah. Meskipun demikian aktifitas selama puasa termasuk persiapannya sebaiknya dilakukan secara berjama’ah. Sebagaimana sahabat Ali bin Abi Thalib ra. mengatakan bahwa kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir. Menyusun rencana aktifitas Ramadhan dan melatihnya dalam masa menjelang Ramadhan bersama sahabat atau keluarga menjadikan persiapan ibadah semakin matang dan terasa lebih menyenangkan ketimbang dilakukan sendiri.

Masih banyak hal yang bisa dilakukan terkait persiapan kita menyambut Ramadhan di 3 bulan mendatang, namun 4 kiat di atas kiranya cukup sebagai usaha kita memaksimalkan kualitas ibadah di Ramadhan tahun ini. Semoga dengan kiat-kiat tersebut kita menyambut Ramadhan dengan hati gembira karena persiapan yang matang.

Barang siapa yang menyambut Ramadhan dengan hati yang gembira maka ia akan dijauhkan dari pintu neraka dan pintu surga dekat dengannya.

Wallahu a’lam bishowab.

Tagged:
Posted in: Tajuk Utama